PSIKOLOGI HEWAN

PENGANTAR : Menurut saya hewan mempunyai insting, tetapi tidak punya perasaan. Insting hewan bisa dilatih oleh pemeliharanya, sehingga instingnya jadi berkembang dan terlihat oleh kita seperti punya perasaan padahal tetap hanya sebagai insting. Babi atau tikus merupakan contoh hewan yang paling komunikatif dan mudah dipahami. Babi identik dengan kebiasaan malas, sedangkan tikus melambangkan koruptor dan pencuri. Keduanya sangat efektif untuk menyampaikan cermin moral manusia yang buruk.

LONDON – Sebuah survei di Austria mengungkap bahwa anjing merupakan hewan yang memiliki rasa cemburu tinggi. Untuk menunjukkan rasa cemburu, anjing akan melakukan tindakan yang tidak biasa.
Ahli psikologi hewan dari Universitas Vienna Friederike Range seperti dikutip Reuters, dengan mendongkol dan tidak menurut jika diminta menggoyangkan tangannya, ini menunjukkan anjing itu cemburu. Biasanya rasa cemburu itu timbul, jika sang majikan sedang bercanda dengan anjing lainnya atau memberi hadiah yang tak setimpal satu dengan lainnya.
“Anjing termasuk salah satu hewan yang memiliki perasaan emosi yang kompleks dari hewan lainnya,” kata Range.
Hasil studi yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of Sciences ini mengungkap, anjing akan menjilat-jilat tubuh, melukai diri, dan bertingkah seperti stress, jika mendapat hadiah yang juga diberikan kepada anjing lain oleh majikannya.
Dalam penelitian, Range menguji dua anjing yang duduk saling berdekatan. Kemudian peneliti memberikan hadiah yang tidak sama ukurannya pada salah satu anjing. Anjing yang menerima hadiah lebih kecil, menjilat tubuhnya, menguap sebesar-besarnya, melukai dirinya, dan menunjukkan tingkah aneh. Mereka juga menolak melakukan sesuatu seperti yang diperintahkan peneliti.
Studi juga mengungkap hal yang sama pada monyet jika temannya menerima hadiah yang lebih baik dari miliknya. Berbeda dengan anjing, monyet lebih agresif dalam menunjukkan rasa cemburunya, yaitu dengan menyerang.

  • Anjing Bisa Juga Merasa Pesimis


Suatu penelitian yang mempelajari pikiran anjing menemukan bahwa para anjing yang gelisah ketika ditinggal sendirian cenderung menunjukkan tingkah laku yang mirip pesimistis.
Penelitian tersebut yang dilakukan oleh para akademisi di Universitas Bristol dan yang didanai oleh RSPCA dipublikasikan hari ini di Current Biology. Studi tersebut menyediakan wawasan penting terhadap emosi anjing dan memperkaya pemahaman kita tentang mengapa respon tingkah laku perpisahan terjadi.
Profesor Mike Mendl yang merupakan Kepala Keselamatan Hewan dan kelompok penelitian Tingkah Laku di Fakultas Sains Kedokteran Hewan Klinik Universitas Bristol yang mengepalai penelitian tersebut mengatakan: “Kita semua memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa hewan peliharaan kita dan hewan lainnya merasakan emosi-emosi yang mirip dengan emosi kita, tapi kami tak memiliki cara untuk mengetahuinya secara langsung karena emosi pada dasarnya bersifat pribadi. Namun kita bisa menggunakan temuan penelitian psikologi untuk mengembangkan cara baru untuk mengukur emosi hewan.
“Kita tahu bahwa situasi emosional seseorang mempengaruhi penilaian orang tersebut dan orang-orang yang bahagia lebih cenderung menilai situasi yang bermakna ganda secara positif. Studi kami menunjukkan bahwa hal tersebut berlaku juga pada anjing, dengan kata lain seekor anjing yang optimistis cenderung lebih kurang merasa gelisah ketika ditinggal sendirian daripada anjing yang memiliki sifat pesimistis.”
Untuk mempelajari keputusan pesimistis atau optimistis, para anjing di dua pusat penyelamatan hewan Inggris dilatih dengan cara sebagai berikut: ketika mangkuk diletakkan pada satu tempat dalam ruangan (posisi positif) mangkuk tersebut akan berisi makanan, tapi ketika ditempatkan pada tempat lain (posisi negatif) mangkuk itu kosong. Mangkuk itu kemudian ditempatkan pada tempat yang bermakna ganda atau membingungkan yaitu di antara posisi positif dan negatif.
Profesor Mendl menjelaskan: “Para anjing yang berlari cepat ke tempat membingungkan ini yang seakan-akan mengharapkan hadiah makanan yang positif, diklasifikasikan sebagai pelaksanaan keputusan optimistis. Yang menarik, anjing-anjing tersebut cenderung lebih kurang menunjukkan tingkah laku yang mirip kegelisahan ketika ditinggal sendirian dalam waktu yang tidak lama.
“Sekitar setengah jumlah anjing yang ada di Inggris pada situasi tertentu bisa menunjukkan tingkah laku yang berkaitan dengan perpisahan yaitu membuang tinja, mengonggong dan menghancurkan benda-benda di sekitar rumah ketika anjing-anjing tersebut terpisah dari pemilik atau tuannya. Penelitian kami mengindikasikan bahwa para anjing yang menunjukkan tingkah laku ini juga kelihatannya melakukan penilaian yang lebih pesimistis secara umum.”
Dr. Samantha Gaines yang merupakan Wakil Ketua Bagian Pengawalan Hewan dari RSPCA mengatakan: “Banyak anjing dilepas setiap tahun karena menunjukkan tingkah laku yang berhubungan dengan perpisahan. Beberapa pemilik anjing menganggap bahwa anjing-anjing yang menunjukkan tingkah laku kegelisahan sebagai respon perpisahan baik-baik saja, dan tidak mencari perawatan bagi hewan peliharaan mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa anjing tersebut mungkin memiliki keadaan emosional negatif yang mendasar, dan para pemilik didorong untuk mencari perawatan untuk kebaikan anjing mereka dan meminimalisir kebutuhan untuk melepas hewan peliharaan mereka. Beberapa anjing juga bisa saja lebih rentan mengembangkan tingkah laku ini dan harus dicarikan pemilik yang cocok.

  • Psikologi Kucing


Kucing adalah hewan yang tidak mempunyai ego, sebab kucing tak bisa berimajinasi.
Pertanyaannya, apakah itu imajinasi? Dan apa hubungannya dengan ego? Apa beda otak kucing dengan manusia?
Imajinasi berharga dari ilmu pasti, kata Einstein.
Imajinasi adalah ‘gambaran’ baru yang muncul dikepala melalui penggabungan memori-memori di otak. Tanpa memori, tidak akan ada imajinasi. Karena memori-memori di kepala adalah implikasi dari keberadaan sel syaraf dan sistemnya, maka imajinasi adalah fenomena spontan yang terjadi akibat ‘kemampuan’ sel syaraf dan pola sistem syaraf itu.
Adapun mengenai hubungan antara imajinasi dan ego adalah ukuran dan zat pembentuk sebuah sel syaraf manusia merupakan ‘kemampuan’ sel syaraf yang menimbulkan fenomena ‘memori atau ingatan’ pada otak manusia.
Pola jaringan syaraf, mulai dari pola hubungan neuron-akson sampai posisi sistem syaraf otak kanan dan kiri beserta ‘onderdil’ lainnya di dalam kepala manusia, menimbulkan fenomena ‘mengingat/memanggil memori‘-‘memilah-memilih/menyesuaikan’-‘memutuskan’.
Dua fenomena inilah yang secara aksiomatis, menimbulkan fenomena imajinasi. Kemudian, semakin banyak memori yang dimiliki oleh otak, maka semakin besarlah daya imajinasi tersebut. Sampai pada kapasitas memori tertentu, imajinasi membentuk apa yang kita sebut sebagai ‘kesadaran’ atau ego.
Mengenai perbandingan otak manusia dan kucing, maka secara sederhana, kita katakan, ego terbentuk akibat adanya daya imajinasi, daya imajinasi terbentuk karena adanya hubungan antara memori-memori yang memadai, hubungan antara memori-memori yang memadai dibentuk oleh kandungan zat, ukuran, dan banyaknya sel-sel syaraf serta pola jaringan sel-sel syaraf tersebut. Kita tahu, otak kucing benar-benar kecil, tak sampai satu genggam. Dengan volum otak yang sedemikian, jumlah sel syarafnya sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah sel syaraf otak manusia. Belum lagi jika dibandingkan dengan kualitas zat (dalam hal kualitas rekaman sinyal listrik) dan ukuran sel syarafnya (dalam hal kapasitas rekaman) serta pola jaringan sel syaraf manusia. Oleh karena itu, kucing tidak memiliki ego sebagaimana manusia.
Tentu saja, karena kucing tak punya ego, maka super ego pun, ia tak punya. Ia tak punya pandangan-pandangan seputar baik, buruk, benar, salah, dan seterusnya.
Sama seperti manusia, kucing punya sub ego. Sebab, ia mampu bergerak untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Maksudnya? kok sama seperti manusia?
Menurut Sigmund Freud, sub ego itu adalah alam bawah sadar manusia. Tentunya, sama seperti manusia, hewan juga memiliki alam bawah sadar.
Alam bawah sadar ini ‘dikuasai’ oleh hormon-hormon di dalam tubuh, terutama hormon yang berhubungan dengan reproduksi seperti endrogen dan hormon yang berkenaan dengan upaya untuk bertahan hidup seperti adrenalin. Semua gerak kucing (sama seperti manusia “tanpa pandangan”) baik yang ilmiah seperti pertumbuhan fisik maupun yang semi-alamiah seperti perkawinan, ‘dikendalikan oleh hormon-hormon/alam bawah sadar ini. Terkadang, kita sering menyebut alam bawah sadar ini dengan satu kata, yaitu “nafsu”.
Sub ego atau alam bawah sadar itu tidak hanya dibentuk oleh hormon-hormon biologis itu dari dalam, tapi juga dapat dibentuk oleh ‘paksaan’ dari luar. Seperti yang dilakukan ivan petrovic pavlov, seorang ahli pendidikan. Ia dapat membuat seekor anjing mengeluarkan liur menggunakan cahaya lampu tanpa adanya makanan di sekitar anjing itu. Para pemilik jasa hiburan keliling “topeng monyet” juga dapat melakukan hal ini. Mereka membuat monyet-monyet dapat memakai baju, melompat, beraksi sesuai dengan aba-aba yang diberikan oleh si pemilik. Pembentukan alam bawah sadar tidak terlalu sulit, para produsen biasa memperlakukan hal itu terhadap konsumennya melalui periklanannya, dan atau pemerintah atau elit-elit politik terhadap tentara atau kesatuan tempurnya melalui tindakan persuasif dalam simulasi-simulasi, latihan-latihan, simbol-simbol dan doktrin-doktrin yang diucapkan berulang-ulang.

http://www.umm.ac.id/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s